Oktober 12, 2012

catatan perjalanan surabaya malam hari


Berangkat dari depan gerbang menyaksikan beberapa mahasiswa yang lalu lalang keluar masuk kampus. Perjalanan panjang yang menyebalkan akan segera dimulai. Kurasakan kaki ini berat untuk memulai perjalanan. Apalagi aku hanya seorang diri dalam permainan ini. Ya, hanya seorang wanita dan lainnya 4 orang lelaki. Namun nasib baik masih berpihak padaku. Dua orang wanita yang setingkat lebih tua dariku masih mau menemani aku dalam perjalanan menyebalkan ini. Sebut saja mbak pipit dan mbak anik. Meskipun dalam penugasannya aku diharuskan sendiri, setidaknya aku merasa terlindungi dengan adanya mereka. Kakiku masih terus melangkah. Melangkah lurus untuk mencari angkutan umum. Sepanjang perjalanan menuju depan kampus, aku dan kelompok perjalananku berbarengan dengan bubarnya anak sekolahan disana. Disana aku melihat pemandangan aneh. Puluhan siswa smp yang keluar dari sekolahnya itu berbaur, dan mulai berpencar mencari kelompoknya sendiri-sendiri. Perhatianku tertuju pada tas yang digunakan siswi yang keluar dari sekolah itu. Rasanya aneh. Saru kalo orang jawa bilang. Siswi itu tidak menggunakan tas yang sebagaimana mestinya dipakai seorang anak pelajar, melainkan yang aku lihat disana dia memakai tas kecil yang biasanya dikategorikan untuk para ibu-ibu kondangan.  Sedikit miris melihatnya. Dalam otak terbesit pertanyaan, buku apa sih yang ada di dalam tas siswi itu? Berapa banyak buku yang ada dalam tas kecil itu? Apa jangan-jangan isinya hanya satu buah sisir dan alat kosmetik seperti yang dibawa para spg di mall? Hmmm yang jelas rasanya aneh dan susah masuk ke nalar. Tapi ah yasudahlah biar itu menjadi pekerjaan rumahku. Setelah aku dan kawan2 perjalananku sampai di tempat mencari angkutan umum menuju kamal, kami menunggu tidak terlalu lama meskipun kami berbarengan dengan anak pulang sekolah. Dan masuklah aku ke dalam angkutan umum yang menurutku aneh itu. Bentuk angkutan umum di sini tidak sama seperti yang ada di surabaya. Aku duduk di bagian pojok dari angkutan umum itu. Yang aku rasakan saat itu adalah sebuah sesak yang lebih sesak dari pengalaman ku slama ini naik angkutan umum. Penuh sekali. Seperti kertas yang akan di masukkan kedalam kaleng, lalu kaleng itu penuh dan kertas yang belum masuk itu dipaksa untuk masuk ke dalam kaleng itu. Ya seperti itulah gambaranku saat itu. Angkutan umum ini perlahan meninggalkan daerah kampus. Semakin jauh dan semakin meninggalkan kerumunan anak sekolah yang juga sedang menunggu angkutan umum itu. Hembusan angin yang kencang kala aku membuka jendela angkot itu membuat aku sedikit lega. Namun hal itu tidak bertahan lama. Kurasakan semakin kencang angkot itu berjalan. Semakin kencang hingga kepalaku selalu membentur bagian dari jendela angkot tersebut. Sakit rasanya walaupun sebelumnya aku juga pernah merasakan sakitnya terbentur. Di dalam angkot aku hanya bisa melihat orang-orang di sekitarku. Sesekali aku mengobrol dengan toto, kawan perjalananku. Tak terasa angkot yang menyebalkan itu hampir berlabuh di terminal. Semakin masuk dan akhirnya berhenti sampai di terminal. Aku turun paling akhir. Dan bergitu turun, sungguh aneh aku melihatnya. Itu adalah pertama kalinya aku masuk ke dalam terminal dalam pelabuhan kamal itu. Dan kesan pertama yang aku dapat adalah, kumuh, kotor, dan jorok. Ya cuma itu yang bisa aku rasakan. Mungkin aku merasakan hal lain. Tapi cukup 3 kata itu saja yang mewakilkan betapa kotornya terminal itu. Aku mulai melangkahkan kakiku menuju tempat pembelian karcis. Setelah karcis aku beli dengan harga mahasiswa, padahal aku biasanya membeli karcis seharga pada umumnya. Aku merasa rendah kala aku membeli karcis itu dengan mengatakan, beli karcis buat mahasiswa pak. Seperti itu kah layanan yang di dapat seorang mahasiswa? Naik kapal dengan harga yang lebih murah daripada seorang penjual ikan yg katanya derajatnya lebih rendah daripada mahasiswa?
                Perjalanan kemudian dilanjutkan di kapal. Tidak banyak yang aku tangkap disana. Pedagang asongan pun sudah biasa ku lihat dimana-mana. Aku juga sering bertanya kepada diri sendiri. Untuk apa orang2 melakukan hal ini. Berjualan, lalu lalang di kapal. Tapi aku sadar jawabannya hanya 2 kata. Bertahan hidup. Sederhana tapi berat. Di kapal aku bertemu dengan kawan seangkatan. Aku ngobrol dan bercanda. Tidak banyak karena memang obrolan mereka gak penting dan susah masuk otakku yang saat itu lelah karena perjalanan dari angkot. Kemudian aku di tawari kopi oleh mbak pipit. Kakak senior ku yang ikut menemani perjalananku menuju surabaya. Awalnya aku tidak mau. Karena aku rasa kopi itu pahit dan tidak ada manisnya. Seperti kehidupan orang susah yang selamanya akan pahit bila belum merasakan hidup. Namun, setelah aku mencoba seteguk kopi panas itu, yang aku rasakan adalah manis. Awalnya. Aku pun ketagihan untuk mencobanya. Sampai akhirnya aku merasakan pahit. Dari kopi saja aku bisa belajar. Bahwa kehidupan tidak selamanya manis. Mungkin awalnya manis. Tapi aku juga berpikir, apabila aku hanya mencoba-coba rasa kopi itu aku akan merasakan manis di awal dan pahit di akhir. Begitu pula dengan kehidupan. Kita akan merasakan kepahitan yang luar biasa apabila kita mencoba-coba bermain dengan kehidupan yang penuh kepalsuan dengan rasa manis diawalnya.
                Ombak yang aku rasakan pada petang itu tidak begitu besar. Tidak terlalu goyang dan tidak terlalu kuat. Hanya desiran angin yang kencang yang meniup asap-asap rokok yang menganggu pernafasan. Tak terasa kapal berlabuh. Aku tersadar dari lamunanku ketika melihat orang-orang berdesakan untuk turun ke bawah. Aku pun ikut berbaur dengan mereka. Hanya berbaur. Bukan untuk bergaul. Aku bersama kawan perjalananku meneruskan perjalana. Kami langkahkan kaki menuju terminal. Disana aku dan kawan-kawanku mencari bis untuk menuju ke suatu tempat. Tempat yang luar biasa. Kami naik bis ber-AC. Nyaman skali rasanya. Berbeda 360 derajat dengan angkot yang ada di madura tadi. Padahal selisihnya hanya selembar 1000 rupiah. Lantas apa yang membedakan? Aku langkahkan kaki menuju anak tangga yang ada di bis itu. Di dalam kendaraan besar berAC itu aku duduk dan merasakan kenyamanan. Nyaman skali. Hanya sekitar 20 menit aku berada di dalam bis dingin itu. Hingga akhirnya perjalanan  ku sampai ke sebuah tempat. Tempat yang dulunya sering aku kunjungi. Tempat dulu aku bermain disana. Tempat dimana orang-orang berduit berkumpul menghabiskan uang mereka. Ya. Tunjungan plaza. Tempat bunafit yang sekiranya hanya orang berduit dan kalangan atas saja yang bisa menikmati megah dan mewahnya mall itu. Aku dan kawan-kawan perjalananku mulai memasuki daerah mall itu dan menginjakkan kaki ke dalam mall itu. Biasa saja bagiku. Tapi yang membuatku merasa aneh dan luar biasa di tempat itu adalah budgetku yang hanya 35ribu. Itupun sudah berkurang karena perjalanan dari madura tadi. Bagiku aku merasa sangat malu meskipun orang tidak akan pernah tau berapa uang yang aku bawa ketika aku masuk ke pusat perbelanjaan bunafit itu. Disana aku, kawan perjalananku, dan 2 orang mbak seniorku berpisah. Disana  untungnya hanya mendapat tugas mengamati. Bukan mewawancarai. Dan disana pun kita dibebaskan untuk berbelanja, cuci mata, atau hal yang lain yang ingin kita lakukan disana asalkan kita bisa mengobservasi keadaan dalam pusat perbelanjaan itu. Bayangkan saja kalu semisalnya aku dan kawan perjalanku di beri tugas untuk mewawancarai penjual toko atau mereka yang menjadi bagian di mall itu, betapa mengganggunya kita disana. Bisa-bisa aku dan kawan perjalananku itu diusir dari tempat itu tanpa mendapat apa-apa disana.
                Di dalam pusat perbelanjaan, disitu aku dan kawan perjalananku hanya mengitari karena aku sendiri bingung apa yang harus aku lakukan disana dengan uang yang minim dan pas-pasan. Beruntung disana sedang ada acara. Acara yang mengundang artis ibukota. Sambil menunggu apa yang akan observasi aku dan kawan perjalananku melihat sejenak apa yang ada di acara tersebut. Benar saja. Disana ada artis ibukota seperti tompi dan artis stand up comedy cak lontong. Di tengah keramaian dan kerumunan orang yang saling menonjolkan dirinya sendiri dengan penampilan yang mencolok ternyata masih ada saja yang peduli dan tenggang rasa terhadap aku dan kawan perjalananku. Dia tua dan bermata sipit. Kulitnya putih dan memegang sebuah payung. Sejenak aku berpikir bahwa itu adalah payungnya sendiri tapi ternyata setelah beliau mengajak berbicara toto, salah satu kawan perjalananku aku tau. “awas hpnya jatuh ke bawah dek” kata orang tua bermata sipit itu. “oh iya pak trimakasih” dari situlah obrolan panjang antar toto dan kakek tua itu bermula. Kawan perjalananku itu pun bertanya “apakah disini hanya tempat untuk orang kaya dan berduit saja ya pak?” kemudian kakek tua itu menjawab kalau tempat ini bukan hanya untuk orang kaya dan berduit saja. Kakek tua itu menjelaskan kalau pusat perbelanjaan ini adalah tempat orang dimana mereka butuh hiburan. Seperti halnya kakek itu yang datang hanya seorang diri dan kalau dilihat sekilas mungkin kakek itu tidak berduit seperti orang lainnya yang ada di dalam pusat perbelanjaan disitu. Dari situ aku bisa menarik kesimpulan ternyata tidak selamanya orang yang berada didalam gedung itu adalah orang kaya dan berduit. Hanya untuk saat itu aku berpikir seperti itu. Aku juga melewati beberapa toko yang ada disana. Toko baju, tas dan sepatu. Sekilas aku berpikir. Apa bedanya mereka dengan barang KW-an yang ada di emperan dan toko lain yang lebih rendah dari mereka. Model pakaian, tas dan sepatunya pun sama saja. Dari ditu aku bisa menarik kesimpulan. Barang mewah yang ada di toko ubnafit itu dengan barang kw-an yang ada di emperan ternyata hanya dibatasi oleh sepatah dua kata yang disebut merk. Setelah lelah menelusuri pusat perbelanjaan yang besar dan megah itu, aku dan kawan perjalanaku menuju ke food court. Disana kami mendapati mbak senior kami yang sedang makan bersama temannya. Melihat makanan yang jelas menggoda dan minuman yang embunnya terus menetes itu membuat aku dan perutku semakin tidak bisa diajak kompromi. Ingin rasanya aku membeli makanan yang ada disana seperti saat aku menghabiskan waktu dan uangku bersama teman-teman lamaku disini. Tapi aku sadar. Kalau makanan di situ tida sesuai dengan isi dompetku yang malu ketika aku membukanya. Kuputuskan menahan lapar. Kemudian mbak pipit menawari kami segelas minuman yang tidak penuh kepada kami. Aku dan kawan perjalananku segera meminum es itu walaupun awalnya malu-malu. Melihat kami begitu semangat menyedot es itu sedikit demi sedikit, mbak anik yang sedang makan bersama temannya itu mungkin pada saat itu melihat aku dan kawan perjalanku yang sedang berebut meminum es yang tak penuh itu. Mungkin mereka iba melihat kami yang sedang kelaparan kehausan dan kelelahan. Akhirnya mereka menyisakan sedikit nasi untuk kami. Aku sudah tidak bisa menggambarkan betapa kejamnya bentuk nasi yang diberikan pada saat itu. Tapi ketika diberikan kepada kami, aku langsung menyobek selembar ayam goreng dan mengoleskannya kepada saus sambal merah yang menggoda itu. Entah dimana awalya, pada akhirnya kami berlima yang memakan satu piring itu, bayanganku di dalam tempat seperti tunjungan plaza itu kami makan beramai-ramai. Satu piring lagi. Ah mau malu juga bagaimana lagi. Toh kami kelaparan. Biar orang melihati aku dan kawan perjalananku dengan aneh asalkan perut kami sedikit terisi. Mungkin ini yang ada dipikiran seorang pengamen, pengemis ketika mereka mencari uang. Tak terasa satu piring bersih sudah. Habis dimakan oleh kaum kelaparan seperti kami. Kemudian teman mbak anik yang baik hati itu pun pergi. Aku pikir mereka akan pulang. Tapi ternyata tidak. Mereka kembali sambil membawa 5 gelas es penuh. Bukan separuh lagi seperti yang tadi. Ah betapa baiknya mereka. Ketika aku sedang asik menghisap sedikit demi sedikit es itu, aku melihat sekumpulan perempuan muda yang mungkin setingkat lebih tinggi diatasku sedang membawa es krim lucu nan imut. Disana mereka duduk sambil menggosip. Entah apa yang mereka gosipkan yang jelas pada saat itu aku berpikir, apa bedanya mereka dengan ibu-ibu yang ada dikampung yang juga sedang menggosip? Apa juga bedanya mereka dengan pembatu2 yang sedang ngerumpi membicarakan majikannya yang garang. Apa tujuan mereka kalau hanya sekedar menggosip harus di tempat seperti tunjungan plaza sambil makan es krim kecil yang harganya fantastis. Padahal menggosip dan negrumpi itu bisa dilakukan dimana saja menurutku.
                Perjalanan masih terus berlanjut. Masih di dalam pusat perbelanjaan itu. Aku dan kawan perjlananku masih terus mengitari bangunan besar, dingin, mewah, terang, dan penuh dengan kerumunan manusia itu. Disana aku dan kawan perjalananku melewati sebuah restoran. Di luar dari bagian restoran itu ada seorang sales di depan restoran itu. Seyogyanya sebagai sales ia menawarkan apa yang dijual oleh restaurannya kepada kami yang melewati areanya. Tapi mungkin karena penampilan aku dan kawan perjalananku sedikit lusuh dan tidak se glamor mereka yang ada disana mereka tidak menawari. Mereka hanya melihat kami lewat begitu saja. Sedangkan tepat dibelakang kami ada seorang bapak-bapak yang memakai jas dan rapi dandanannya. Sales itu langsung menawari seperti sales pada umumnya kepada bapak itu. Dari situ aku berpikir. Ternyata orang hanya menilai dari kulit luarnya saja. Di dalam pusat perbelanjaan itupun aku masih terus mengamati dan mengamati. Aku lihat setiap orang yang datang selalu berdandan semaksimal mungkin, mencolok, dan menonjolkan diri masing-masing. Menonjolkan apa yang mereka punya. Seolah-olah mereka ingin agar semua orang yang berada disitu tau kalo mereka itu lebih dari pada yang lain.
                Perjalanan selanjutnya adalah ke taman bungkul. Tempat orang berkumpul. Bermacam-macam jenis orang. Tapi sebelumnya, dari tunjungan plaza menuju bungkul aku dan kawan perjalananku mencegat bemo. Kali ini bemo nya bemo surabaya yang modelnya berbeda dengan angkot yang aku naiki di madura. Modelnya sedikit longgar menurutku. Tapi yang menarik dari bemo itu adalah orang yang ada di dalamnya. 3 orang wanita menarik perhatianku. Ketiganya terlihat seperti wanita karir. Aku mendengar pembicaraan mereka. Salah satu dari mereka menyombongkan diri. Saat itu mereka sedang membicarakan tentang keadaan luar negeri. Entah negara apa persisnya. Yang jelas persisnya dalam hal itu mereka membanggakan negara lain daripada indonesia negara yang tanahnya sedang mereka injak saat itu. Dari situ aku menilai, ternyata orang indonesia lebih bangga ketika mereka bisa bercerita atau tau tentang luar negeri daripada negerinya sendiri, Indonesia. Lantas buat apa mereka berada di Indonesia kalau pada akhirnya mereka belajar ke luar negeri lalu mebanggakan negara lain selain Indonesia?
                Di taman bungkul bemo itu berhenti. Aku dan kawan perjalananku melangkahkan kaki keluar kendaraan umum itu. Meninggalkan 3 orang wanita karir yang sedang asik berbicara tentang negara lain. Waktu itu sekitar pukul 10 malam. Itu adalah pertama kalinya bagiku keluar rumah dan melihat betapa hiruk pikuknya kota surabaya pada jam itu. Padahal apabila aku ada di rumah saat itu mungkin aku sedang tertidur pulas sambil melihat televisi. Lampu kota yang terang mengiringi langkahku menuju tempat berkumpul di taman bungkul. Sudah larut memang. Tapi mungkin bagi mereka ini masih terlalu sore untuk pulang ke rumah. Terlalu banyak jenis orang disana. Banyak juga kasta yang akhirnya tercipta disana. Tapi aku tidak peduli karena aku datang ke sana karena tugas bukan karena ingin bermain-main. Aku, kawan-kawan perjalananku, dan dua orang mbak seniorku kemudian mencari tempat duduk yang pas sambil menunggu senior yg lain. Kami terduduk di pinggir jalanan taman bungkul itu. Aku melihat sebuah hewan berwarna putih karena terterangi oleh cahaya lampu yang sedang berterbangan di atas kepala kawan perjalananku. Ya, nyamuk. Banyak sekali nyamuk yg mengerubuti kepala kawan perjalananku semakin menandakan kalau aku dan kawan perjalananku belum mandi dan semakin terlihat lusuh di mata berjenis-jenis orang disana.
                Perutku seolah mengikuti irama para pengamen jalanan yang ada disana. Ikut menari dan menyanyi di dalam perutku. Seakan meminta sesuatu yang selalu aku tunda karena aku slalu ingat lembaran kertas di dompetnya hanya tinggal 2 lembar saja. Tapi vian, salah satu kawan perjalananku hendak berangkat membeli makanan. Nyanyian di perutku semakin tak terkendali dan memaksaku untuk segera membeli makanan. Tentu aku tak tahan. Langsung saja aku keluarkan selembar uang berwarna ungu dari dalam dompetku lalu mnyerahkannya ke vian untuk membeli sebungkus nasi. Langkah kaki vian semakin jauh meninggalkan aku dan kawan perjalananku yang tersisa pada malam itu. Sembari menunggu aku sudah juga tidak tahan menahan air kencingku yang ingin keluar. Aku putuskan ke kamar mandi bersama mbak anik. Sepanjang perjalanan menuju kamar mandi yang ada disana, pemandangan yang kuliahat juga biasa saja. Seperti banyak penjual, pedagang kopi, pengamen, dan pengemis. Mereka seolah tidak peduli dengan orang yang datang ke taman bungkul dengan pakaian yang bagus, rapi, dan trendy. Mungkin yang ada dipikiran mereka saat itu adalah bagaimana caranya mereka mendapat uang banyak pada malam hari itu untuk sesuap nasi di esok paginya. Di depan kamar mandi, aku masih mengantri. Mengantri orang yang sedang.....entah aku tidak tau apa yang mereka lakukan di dalam kamar mandi itu. Yang jelas lama sekali melebihi orang yang sedang buang air besar. Setelah mendapatkan satu ruang kamar mandi di toilet umum itu aku masuk. Melakukan apa tujuan ku datang kesana. Yaitu buang air kecil. Mataku sudah menekuk separuh yang akhirnya aku putuskan untuk mengusap wajahku dengan air. Mungkin bisa disebut cuci muka. Setelah segar, mataku kembali terbuka lebar dan serasa siap menerima tugas apapun yang diberikan oleh senior ku. Aku kembali ke gerombolan kawan perjalananku dan 2 mbak seniorku. Nasi sudah datang. Jumlahnya ada 4 bungkus. Tapi jumlah aku dan kawan perjalananku ada 5. Kami yang mungkin sudah sangat amat kelaparan segera membuka karet yang melindungi bungkus nasi itu dan akhirnya telanjanglah nasi goreng itu. Seolah siap untuk dinikmati bersama orang banyak. Suap demi suap aku ambil dengan tanganku yang mungil  itu. Perutku terisi oleh satu suap nasi yang ada di tanganku. Semakin terisi sedikit demi sedikit dan akhirnya perutku terisi lalu terdiam dari irama musik lapar. Setelah perutku terisi dan terasa kenyang, kami segera menuju pada kakak senior yang lain yang baru saja datang. Disana kami membaur dan segera mendapat tugas. Tugas pertama aku dan kawan perjananku mendapat tugas untuk mewawancarai pedagang asongan dan pengamen. Aku dan kawan perjalananku dibagi menjadi 2 kelompok. Waktu itu aku sedang bersama toto dan mas imam. Kami diberi waktu satu jam. 15 menit waktu kami terbuang ketika aku dan kawan perjalananku itu mencari siapa yang hendak diwawancarai. Kami kebingungan saat itu. Akhirnya kami menjumpai penjual kopi tua yang sedang duduk dan melayani orang yang ingin membeli kopinya. Kami duduk dan segera memesan kopi. Inti dari pembicaraan kami dengan bapak itu adalah, bapak tua itu adalah pendatang di surabaya. Beliau datang dan berjualan di taman bungkul masih baru saja. Istrinya juga berjualan diseberang bapak tua itu. Bapak itu mempunyai 3 orang anak. Seorang anaknya sudah berkeluarga dan tinggallah beliau dengan 2 orang anaknya yang masih bujang. Dari situ beliau menceritakan betapan nakal anaknya. Beliau bilang, “anak saya tidak mau sekolah mbak mas kalo tidak dibelikan speda motor” miris aku mendengarnya. Aku membayangkan kalau saja anak bapak tua itu adalah anak ibuku, mungkin sudah dibiarkan saja dia tidak sekolah. Tapi apa yang dilakukan oleh bapak tua itu. Dia bekerja keras demi anaknya supaya mau bersekolah. Berjualan kopi dan rokok demi sebuah sepeda motor yang dipersembahkan untuk anaknya yang tercinta. Aku berpikir betapa bodohnya anaknya. Apa anaknya itu tidak tau kalau bapaknya ini bukan direktur atau manajer atau pegawai negeri sipil yang bisa seenaknya diancam tidak bersekolah ketika keinginannya tidak dipenuhi? Kemudian aku juga bertanya kalau kalau air hangat yang dibawanya habis kemana beliau akan memasak air. Oh ternyata semua sudah tersedia disini. Asalkan punya uang untuk membayarnya. Kalau saja sachetan kopiny habis tinggal membeli kepada seseorang yang begitu juga dengan air panasnya. Saking asiknya aku dan kawan perjananku itu mengobrol dengan bapak tua penjual kopi tak terasa 30 menit sudah aku menemani bapak itu ngobrol. Aku dan kawan perjalananku langsung mengundurkan dari bapak tua itu. Terlihat dari raut wajahnya kecewa karena kami tinggal. Padahal aku tau benar kalau beliau sebenarnya butuh kawan untuk ngobrol dan berbicara karena beliau tidak punya teman.
                Target kedua adalah pengamen jalanan. Disana aku dan kawan perjalananku menanyai kepada 2 orang pengamen jalan yang sedang menghitung uang hasil mengamen mereka. Mereka adalah pengamen yang terorganisir disana. Disana sudah ada yang mengatur segalanya atas kebutuhan mereka. Bahkan pengamen disana adalah pengamen yang bisa disebut pengamen tingkat atas. Pasalnya bagian dari pengamen itu kebanyakan masih bersekolah dan kuliah. Betapa terkejut hatiku ketika mendengar pernyataan itu. Aku pikir mereka hanyalah pengamen liar jalanan yang hidupnya tidak teratur. Setelah selesai mewawancarai pengamen jalanan, aku dan kawan perjalananku kembali ke gerombolan. Disana aku mendapat tugas lagi yaitu mewawancarai satu komunitas atau orang yang bergerombol yang ada disana. Kami dimiinta untuk bertanya apa tujuan mereka datang bergerombol disana. Tapi bedanya ini bukan tugas kelompok. Melainkan tugas individu. Aku yang hanya seorang wanita dalam tugas ini bingung. Karena aku tidak berani mewawancarai seorang diri. Aku takut karena sebagian orang yang masih tersisa pada malam larut itu adalah laki-laki. Akhirnya aku mengekor kepada toto dan vian. Disana aku seperti mengelilingi taman bungkul karena aku tidak tau dan tidak berani untuk mewawancarai setiap kelompok yang ada disana. Vian sudah mendapat targetnya. Sementara aku dan toto masih belum. Akhirnya aku mendatangi sekumpulan anak laki-laki, tentu saja dengan toto ada dibelakangku. Aku tidak banyak bertanya karena aku malu dan takut. Yang jelas tujuan sekelompok laki-lakiitu datang ke taman bungkul hanyalah untuk nongkrong dan berkumpul. Aku juga bertanya pada mereka tentang satu hal yang ingin ku tanyakan juga kepada pengunjung taman bungkul yang lain. “apa mas nggak dimarahin orang tuanya kalo jam segini belum pulang?” ketika aku bertanya seperti itu mereka tertawa dan menjawab pertanyaanku “ya enggaklah kita kan sudah besar. Kalo nggak dibolein pulang malam ya paginya aja pulangnya” begitulah jawab mereka.
                                Tugas di taman bungkul pun selesai dan perjalanan masih berlanjut. Kali ini perjalanan di teruskan ke wonokromo. Aku tidak tau tempat apa yang akan aku kunjungi. Apakah akan ramai dan megah seperti TP atau sepi seperti kuburan. Yang jelas, perjalanan menju tempat yang ketiga ini tidak menggunakan kendaraan. Melainkan menggunakan langkah kaki kecilku yang mulai terlelah karena perjalanan yang panjang. Aku dan kawan perjalananku terus berjalan lurus mengikuti arus yang ada dengan ditemani lampu kota yang cahayanya sedikit redup dan terkadang ada yang menyala terang. Kendaraan yang semakin berkurang di jalanan semakin menandakan kalau hari itu semakin larut dan larut namun aku masih belum bisa terlelap karena tugas ini. Tugas yg tidak aku tau tujuannya adalah apa? Kakiku yang mulai lelah ini masih terus berjalan dan berjalan. Melawan rasa lelah yang menyerang tubuhku. Hingga menuju ke sebuah tempat. Tempat itu ramai. Aku heran, di malam yang semakin larut ini masih ada tempat yang seramai ini. Kakiku berjalan ke arah yang semakin dekat tempat keramaian itu. Semakin dekat hingga akhirnya masuk ke dalamnya. Baru disana aku tau kalau itu adalah pasar. Aku tidak tau pasar apa itu. Pasar yang bukanya di tengah malam yang dingin ini. Baru lah setelah mbak pipit memberi tauku kalau ini adalah pasar maling. Oh jadi ini pasar maling. Tidak berbeda jauh dengan pasar pada umumnya. Ramai hanya saja tidak sesak seperti pasar yang aku ketahui slama ini. Ada satu yang janggal di pasar ini. Aku tida melihat orang berjilbab di pasar ini. Tapi langkah dan pandangan ku terhenti ketika salah satu dari kakak seniorku meminta aku dan kawan perjalananku maniki sebuah anak tanggah yang kumuh dan kotor. Spontan saja aku jijik merasanya. Terpaksa saja aku melewati anak tangga itu. Kaget rasanya begitu selesai meloncati anak tangga dan pembatas yang ada disana ada suara ayam. Aku langsung melihat sekitar dan berpikir, tempat macam apa ini. Gelap. Dingin. Sunyi. Sepi. Ah banyak sekali gambaran buruk yang aku pikirkan disini. Semakin bururk ketika aku masuk kedalamnya dan melihat banyak pria dan wanita dengan kain minim yang melapisi tubuhnya. Seolah tidak perduli dengan angin dingin yang menusuk tulangnya. Dan ketika aku semakin masuk dan melihat-lihat keadaan sekitar aku semakin tau kalau ini adalah tempat prostitusi. Tempat prostitusi yang selama ini hanya aku kira ada di dalam televisi-televisi indonesia. Setelah aku duduk dan mendiskusikan apa yang akan kita lakukan disini, aku dibagi tugas untuk mewawancarai pelacur dan ibu-ibu warung yang ada di stasiun wonokromo ini (baca: lokalisasi). Tapi untungnya aku tidak sendiri dalam tugas kejam ini. Aku ditemani mas ginan. Dari sini aku berjalan menelusuri tiap bagian di tempat ini. Berbeda dengan yang di tunjungan plaza tadi, di sini aku memang berjalan-jalan. Tapi aku merasa aku berjalan di sebuah kesunyian dan jauh dari ke-hiruk pikuk-an yang ada di tunjungan plaza tadi. Bicara pun aku tidak bebas. Aku bicara seperti berbisik dan sesekali sambil melihat keadaan sekitar. Kemudian mas ginan membawaku pada sebuah warung yang minim cahaya. Disana aku diberi perintah untuk bertanya kepada penjual warung itu. Namun ketika aku masih memesan secangkir kopi, penjual warung itu sudah memandang aneh pada diriku. Seolah aku punya salah yang banyak dan aku tidak pantas berada di tempat itu. Kontan saja aku takut ketika harus bertanya kepada penjual warung itu “tempat apa ini?”. Belum sempat mulutku terbuka untuk bertanya kepada penjual warung itu, mataku langsung tertuju pada apa yang ada di belakang terpal warung itu. Beberapa wanita seksi sedang duduk-duduk disana sambil melihat ke arahku. Aku takut. Aku salah apa sehingga orang-orang yang ada disini melihatku sperti ini. Sembari menghilangkan rasa takut, aku minum segelas air putih yang ada disana. Tiba-tiba seorang pelacur datang menghampiriku dan menanyai aku. “ngapain mbak disini?” “lagi nunggu kereta buk” “emangnya mau kemana mbak?” “ke jogja buk....” hampir saja ibu itu bertanya padaku tapi aku langsung bertanya kepadanya “...ini tempat apa ya buk kok rame skali” kemudian ibu itu menjawab dengan halus dan menghilangkan rasa takutku “ini tempat main mbak. Hati-hati ya kalau disini” pesan ibu itu menangkan hati sekaligus mewawaskan perasaan ku. Kemudian mas ginan mengajkku skali lagi berjalan-jalan mengelilingi daerah ini. Ketika aku berjalan lurus aku melihat sebuah tenda kecil yang gelap. Disana aku melihat secara langsung. Sepasang anak manusia yang saling bercumbu. Huh betapa beruntungnya aku bisa melihat yang seperti itu secara langsung. Kemudian mas ginan merasa tugasku masih belum selesai. Skali lagi dia mengajakku ke sebuah warung namun lain penjualnya. Awalnya ibu penjaga warung disitu tidur. Namun setelah dibangunkan mas ginan, ibu itu seperti kaget melihat ku. Seperti ada sesuatu yang salah pada diriku. Aku semakin merasa ketakutan disitu. Aku merasa semakin tidak berani bertanya kepada ibu itu. Untungnya mas ginan memulai pembicaraan terlebih dahulu. Lalu aku bertanya-tanya kepada ibu itu walaupun ibu itu menjawab dengan ketus dan jahat menurutku. Beliau adalah orang banyuwangi yang datang ke surabaya sudah cukup lama. Beliau bertempat tinggal di tambak asri yang menurutku jauh dari wonokromo itu. Pelacur disini berasal dari berbagai kota katanya. Setelah aku bertanya-tanya kepada ibu, aku pergi bersama mas ginan. Kembali menuju ke tempat kumpulnya aku dan kawan-kawan perjalananku. Ketika aku berjalan menuju tujuan aku melihat banyak sekali wanita dengan pakaian minim yang berdiri di sepanjang jalan. Kemudian aku mendengar ada pelacur yang menyindirku. Dia berkata bahwa dia takut dengan wanita berjilbab seperti ku. Aku sedikit terperangah ketika mendengar pernyataan itu. Aku bingung harus apa. Marah? Diam? Atau aku ikut menyaingi mereka berpakaian minim supaya terlihat keren diantara mereka? Tapi aku terus saja berjalan dan menuju tempat berkumpul. Sesampainya di tempat berkumpul, mas citra salah satu dari kakak seniroku berkata kalau ini adalah tempat pelacuran paling nista diantara yang lain. Dan aku berpikir, benar juga apa yang mas citra bilang. Bayangkan saja, tubuh mereka hanya dihargai 40.000 rupiah. Itupun masih bisa ditawar. Aku sebagai wanita hanya bisa diam sambil terheran. Lantas untuk apa mereka menjajakan tubuhnya seperti makanan yang ada di warung. Padahal makanan di warung tidak bisa ditawar. Sedangkan tubuh mereka? Bisa di tawar layaknya ikan yang ada di pasar. Sungguh hina dan nista. Lagi-lagi hanya 2 kata yang bisa menjawab pertanyaanku ini yaitu BERTAHAN HIDUP. Tuhaaan...............................................
                Dini hari itu sekitar pukul setengah 4 pagi aku baru di perbolehkan tidur dan beristirahat. Disana aku tidur tidak teratur. Aku tidak tidur di kasur yang hangat seperti biasanya melainkan tidur di stasiun kereta api yang disebelahnya terdapat rel. Namun aku tidak perdulu. Mataku semakin berat dan semakin ingin menutup saja. Aku pun tertidur pulas.namun hawa dingin yang menusuk mengganggu tidur nyenyak ku dimalam yang dingin ini. Sungguh mengganggu. Sangat dingin hingga menusuk tulang belulangku. Ya tuhan inikah yang dilakukan para tunawisma, anak jalanan, dan pengemis yang tidak punya rumah. Setiap hari mereka tidur dalam keadaan seperti ini. Mereka jalani dan mereka terima dengan ikhlas. Mereka tidak mengeluh sedangkan aku, aku pun juga tidak bisa berkata apa-apa dan ternyata inlah kehidupan yang sesungguhnya. Bagi mereka pelacur, pengamen dan orang 2 yang jauh berada di bawahku kehidupan bagi mereka adalah selalu kopi pahit. Bukan kopi susu.
                Adzan subuh terdengar sudah. Namun aku tak ingin segera bangun. Aku masih ingin tidur dan meneruskan mimpi. Mimpi buruk akibat perjalanan semalam. Tapi aku harus menunaikan kewajibanku sebagai muslim. Aku paksa tubuhku yang lelah ini untuk bangun dan segera bangkit dari tidur singkat ini. Kemudian mas imam mengantarku menuju mushola di stasuin untuk menunaikan ibadah solat shubuh. Dingin yang menusuk tubuhku dan menembus tulangku masih terasa hingga matahari menampakkan batang hidungnya. Tapi aku tetap melanjutkan langkah kaiku menuju musholla yang ada di stasiun itu.
                Perjalanan masih berlanjut dan skrng menuju ke tempat yang terakhir yaitu terminal bungurasih.aku dan kawan perjalanaku naik bis ber ac menuju ke terminal bungurasih. Sepanjang perjalanan menuju ke bungurasih aku tidur terlelap. Aku tidak sadar apa sajaa yang terjadi saat aku didalam bis. Yang jelas mataku terbuka ketika aku sampai di bungurasih. Di bungurasih aku dan kawan perjalananku diberi tugas. Tugasnya ya seperti kemarin. Mewawancarai penumpang yang hendak naik bus, pengamen jalanan, dan calo. Penumpang dan pengamen jalanan mudah dicari, sedangakn calo sangat amat susah apalagi pada saat itu mas citra menugaskan kami untuk mencari caloyang bernama mas budi. Setelah selesai mewawancarai paranpenumpang yang hendak berangkat dan pengamen jalanan yang ada di terminal bungurasih itu, aku dan kawan perjalananku berb=gegas mencari calo yang bernama mas budi untuk segera di wawancarai. Tapi kami semua tidak dapat membedakan yang mana calo dan mana yang penumpang atau apalah. Pada saat itu vian, kawanku kedapatan akan mewawancarai seorang calo tapi ternyata, belum sempat kami bertanya pada calo itu, ternyata calo itu sudah sadar diri ketika kami akan menginterogasinya. Ah yasudahlah aku dan kawan perjalananku memutuskan untuk kembali ke gerombolan dan akhirnya perjalananku yang menyebalkan ini berkahir di bungkul.
                Kesimpulannya disini aku belajar banyak hal. Belajar hidup. Belajar susahnya bertahan hidup diantara manusia yang semakin lama semakin bersifat konsumtif. Bertahan hidup diantara manusia yang semakin tak peduli dengan sesame manusia lain. Padahal manusia adalah makhluk social. Namun kenapa sekarang mereka sangat tidak peka dengan apa yang ada di sekitarnya. Dari tempat mewah se mewah tunjungan plaza, turun ke taman bungkul, kemudian turun ke lokalisasi wonokromo, dan berkahir di terminal bungurasih. Bagiku ini pengalaman hidup pertama kali yang aku alami dan tak akan kulupakan selama hidupku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar